Pengertian Sosiologi Sastra Hegemoni Gramsci

Pengertian Sosiologi

Sosiologi sastra merupakan cabang ilmu sosial yang mempelajari hubungan antara sastra dan masyarakat. Sosiologi sastra memiliki berbagai pendekatan yang digunakan untuk menganalisis sastra, salah satunya adalah pendekatan Hegemoni Gramsci.


Antonio Gramsci (1891-1937) adalah seorang filsuf dan aktivis politik asal Italia yang dikenal dengan konsep hegemoninya. Menurutnya, hegemoni adalah dominasi suatu kelompok atau kelas sosial terhadap kelompok atau kelas lain melalui pemikiran dan nilai yang diinternalisasi oleh masyarakat secara sukarela.


Pendekatan Hegemoni Gramsci dalam sosiologi sastra mengacu pada pengaruh pemikiran dan nilai yang terinternalisasi dalam karya sastra yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat. Dalam hal ini, sastra dipandang sebagai media yang digunakan oleh kelas dominan untuk mempertahankan dan memperkuat hegemoninya.


Dalam perspektif Hegemoni Gramsci, sastra dianggap sebagai alat untuk memperkuat dan mempertahankan ideologi dominan. Sastra digunakan untuk menciptakan pemahaman dan kesepakatan bersama dalam masyarakat sehingga memperkuat kedudukan kelas dominan. Dengan demikian, sastra menjadi alat yang efektif dalam menjaga dan memperkuat kekuasaan.


Namun, Gramsci juga menunjukkan bahwa tidak seluruh masyarakat terpengaruh oleh ideologi dominan. Ada juga kelompok yang memproduksi karya sastra yang berbeda dari ideologi dominan, namun tetap membentuk satu kesatuan yang saling berhubungan. Kelompok ini disebut sebagai kelompok subordinat dan memiliki potensi untuk membangkitkan perlawanan melalui karya sastra yang mereka hasilkan.


Dalam sosiologi sastra, Hegemoni Gramsci juga mengungkapkan bahwa sastra dapat berperan sebagai alat untuk membangun kesadaran (consciousness) dalam masyarakat. Dengan membaca karya sastra yang memperjuangkan kepentingan masyarakat, dapat memunculkan kesadaran akan ketidakadilan dan menimbulkan semangat perlawanan terhadap hegemoni.


Selain itu, Gramsci juga menekankan bahwa masyarakat tidak pasif dalam menerima ideologi dominan yang disampaikan melalui karya sastra. Masyarakat memiliki kemampuan untuk memilih dan menginterpretasikan pesan yang disampaikan dalam karya sastra. Dengan demikian, masyarakat juga berperan dalam memproduksi makna dari karya sastra yang mereka baca.


Pendekatan Hegemoni Gramsci dalam sosiologi sastra memberikan kontribusi yang besar dalam memahami hubungan antara sastra dan masyarakat. Dengan pendekatan ini, karya sastra bukan hanya dipandang sebagai cerminan masyarakat, tetapi juga sebagai alat untuk mempengaruhi dan memperkuat kedudukan kelas dominan.


Namun, pendekatan ini juga mendapat kritik dari beberapa ahli yang menilai bahwa Hegemoni Gramsci terlalu menekankan pada dominasi dan resistensi, sehingga mendorong pemikiran yang dualistis. Selain itu, pendekatan ini juga dianggap kurang memperhatikan faktor lain yang dapat mempengaruhi masyarakat, seperti ekonomi dan politik.


Dalam konteks Indonesia, pendekatan Hegemoni Gramsci dapat diterapkan dalam memahami hubungan antara sastra dan kekuasaan. Sebagai contoh, sastra yang berkembang pada masa kolonial telah digunakan sebagai alat untuk mempertahankan hegemoni penjajah dan menekan perlawanan dari masyarakat pribumi. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, sastra juga menjadi media untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dan membangkitkan kesadaran akan ketidakadilan dan penindasan yang terjadi.


Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sosiologi sastra dengan pendekatan Hegemoni Gramsci dapat memberikan wawasan yang mendalam dalam memahami hubungan antara sastra dan masyarakat. Pendekatan ini mengungkapkan bahwa sastra bukan hanya sebagai hiburan semata, tetapi juga memiliki peran yang penting dalam mempengaruhi dan membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat. Sastra juga dapat menjadi alat untuk membangun kesadaran dan memperjuangkan kepentingan masyarakat yang terpinggirkan.

0 Comments